
Dilema memilih antara fokus pada branding owner vs branding produk memang menjadi mimpi buruk bagi banyak pengusaha pemula yang ingin segera melihat angka penjualan naik drastis. Jadi, kamu harus pilih yang mana?
Branding adalah tentang apa yang orang bicarakan mengenai bisnismu ketika kamu tidak ada di ruangan itu. Ini adalah ikatan emosional dan kepercayaan yang terbangun di benak konsumen.
Ketika mendengar nama bisnismu, apa yang langsung terlintas di kepala mereka? Apakah rasa aman, kemewahan, jaminan kualitas, atau justru harga murah?
Kamu harus paham bahwa persepsi inilah yang menentukan apakah seseorang akan membeli produkmu atau melengos pergi ke toko sebelah. Membangun branding berarti menanamkan janji dan memenuhi ekspektasi pelanggan secara konsisten.
Tanpa branding yang kuat, bisnismu hanya akan menjadi komoditas biasa yang harus banting harga demi mendapatkan perhatian. Kamu tentu tidak mau terjebak dalam perang harga selamanya karena itu akan membunuh margin keuntunganmu perlahan-lahan.
Di sinilah pentingnya memahami peran branding dibandingkan strategi promosi lainnya. Jika kamu masih bingung membedakan fungsi keduanya, kamu bisa membaca artikel Perbedaan Branding dan Marketing, Kapan Menggunakannya? untuk mengetahui kapan harus fokus membangun persepsi merek dan kapan perlu mendorong penjualan secara agresif.

Meskipun tujuannya sama-sama untuk jualan, kedua pendekatan ini memiliki “jiwa” dan mekanisme kerja yang sangat berbeda. Personal branding atau branding pemilik berpusat sepenuhnya pada sosok manusianya. Di sini, kamu menjual cerita hidup, kepribadian, nilai-nilai, dan keseharian yang kamu jalani.
Orang membeli daganganmu karena mereka menyukaimu, percaya padamu, atau bahkan ingin menjadi sepertimu. Kamu menjadi wajah terdepan bisnis. Jika kamu sakit atau menghilang dari peredaran, bisnis bisa ikut goyah karena nyawanya ada pada dirimu.
Sebaliknya, branding produk fokus pada identitas barang atau jasa itu sendiri. Kamu membangun karakter produk agar bisa berdiri mandiri tanpa bergantung pada siapa pemiliknya. Fokusnya ada pada kualitas, manfaat, kemasan, fitur, dan pengalaman pengguna. Produk inilah yang menjadi selebritinya.
Konsumen membeli karena mereka percaya barang tersebut bisa menyelesaikan masalah mereka, terlepas dari siapa pun yang membuatnya. Pendekatan ini membuat bisnis lebih stabil secara sistem. Kamu bisa melihat contoh nyata seperti Indomie atau Pepsodent; orang tetap membelinya tanpa perlu tahu siapa pemilik perusahaannya sekarang.
Pertanyaan ini tidak memiliki satu jawaban mutlak karena sangat tergantung pada fase bisnismu saat ini. Jika kamu baru merintis usaha kecil dan anggaran pemasaranmu sangat terbatas, memunculkan wajah pemilik adalah jalan pintas terbaik. Manusia secara alami lebih mudah percaya pada manusia lain daripada pada benda mati atau korporasi yang kaku.
Kehadiranmu menciptakan kedekatan personal yang sulit ditiru oleh perusahaan raksasa. Kamu bisa membangun komunitas setia dengan cepat karena interaksi terasa lebih hangat, jujur, dan manusiawi. Kepercayaan yang terbangun pada dirimu akan menular pada produk yang kamu jual.
Namun, jika ambisimu adalah membangun kerajaan bisnis yang bisa diwariskan atau dijual suatu hari nanti, kamu harus mulai menggeser fokus ke produk. Terlalu bergantung pada sosok pemilik membuat bisnis sulit membesar atau melakukan scale up.
Kamu harus membangun sistem dan reputasi produk yang kuat agar pelanggan setia pada kualitas, bukan cuma pada karismamu. Salah satu strategi yang efektif adalah melalui branding perusahaan menggunakan sosial media, karena kanal ini memungkinkan merek berkomunikasi langsung dengan audiens secara konsisten dan terukur. Dengan strategi yang tepat, bisnis yang sehat adalah bisnis yang bisa berjalan sendiri tanpa kehadiran fisik pemiliknya setiap saat.
Strategi paling cerdas di era sekarang adalah mengombinasikan keduanya secara taktis. Gunakan pesona dirimu untuk mendobrak pintu pasar di awal dan mendapatkan traksi penjualan pertama. Setelah pelanggan mencoba dan puas, perlahan biarkan kualitas produk yang berbicara dan menahan mereka agar tetap setia.
Dengan cara ini, kamu mendapatkan lonjakan penjualan cepat dari kepercayaan personal dan kestabilan jangka panjang dari reputasi barang yang solid. Pada akhirnya, keputusan ada di tanganmu. Kamu tinggal memilih mana medan tempur yang paling kamu kuasai dalam pertarungan sengit antara branding owner vs branding produk demi meraih omzet maksimal.
Mau jadi influencer yang nggak cuma eksis, tapi juga cuan? Yuk, gabung di App & Community by Seefluencer! Di sini, kamu bakal dapet strategi jitu, insight daging, dan kesempatan networking bareng kreator lainnya.
FREE Training & Roadmap untuk meningkatkan omzet bisnis atau penghasilan kamu. Kamu akan dikirimkan roadmap & training khusus sesuai kebutuhan kamu (personalized). Langsung isi form nya hanya dalam 30 detik di seefluencer.com/roadmap
Biar ilmunya makin komplit, kamu juga bisa beli Buku Mega Creator di sini!Jangan cuma baca aja, langsung follow Instagram, TikTok, dan YouTube biar nggak ketinggalan update dan tips buat jadi influencer!