
Tone of voice brand adalah cara sebuah bisnis berkomunikasi dan berinteraksi dengan audiens sasarannya. Nah, gen Z menghargai brand yang punya identitas dan suara otentik. Ini adalah panduan langkah demi langkah menyusun pembentukan karakter brand atau gaya komunikasi untuk menggaet pasar muda ini.
Langkah pertama, pahami dulu siapa Gen Z yang menjadi target pasar kamu. Mereka lahir di era digital dengan arus informasi yang sangat cepat. Generasi ini sangat peka terhadap berbagai isu sosial dan lingkungan sekitar.
Mereka membenci gaya iklan yang terlalu kaku dan bersifat menggurui. Kamu harus menyesuaikan pesan agar terasa jauh lebih natural dan relevan. Amati kebiasaan mereka saat menggunakan media sosial setiap harinya.
Cari tahu platform media sosial yang paling sering mereka gunakan. Setiap platform memiliki budaya dan gaya interaksi yang sangat berbeda. TikTok menuntut gaya komunikasi yang berbeda dari platform media X.
Baca juga kolom komentar di berbagai akun media sosial pesaing kamu. Perhatikan istilah yang biasa konsumen pakai saat berinteraksi setiap hari. Hal ini membantu kamu memetakan pola komunikasi yang paling tepat sasaran.
Selanjutnya, rumuskan sifat dasar dari merek yang sedang kamu bangun. Apakah merek kamu ingin tampil sebagai sosok teman yang menyenangkan? Atau merek kamu bertindak sebagai seorang ahli yang memberi solusi?
Kepribadian ini menjadi pondasi utama dalam seluruh materi komunikasi pemasaran. Kamu harus konsisten menunjukkan karakter tersebut di semua saluran digital. Langkah ini membuat merek kamu lebih mudah diingat oleh Gen Z.
Tuliskan tiga hingga lima kata sifat yang mewakili identitas merek. Misalnya, pilih kata energik, lucu, cerdas, peduli, dan juga santai. Jadikan deretan kata tersebut sebagai panduan utama saat menyusun pesan.
Membayangkan merek sebagai sosok manusia nyata akan sangat memudahkan penulisan. Kamu bisa langsung mempraktikkannya saat membuat draf konten media sosial. Panduan ini menjaga nada bicara tetap stabil setiap saat.
Gen Z sangat mudah mendeteksi bahasa pemasaran yang manipulatif. Mereka menghargai kejujuran dan transparansi dari sebuah entitas bisnis. Kamu harus berani tampil apa adanya tanpa melebih-lebihkan sebuah klaim.
Jangan takut untuk mengakui kesalahan saat merek kamu melakukan kekeliruan. Meminta maaf secara tulus akan meningkatkan rasa hormat para konsumen. Sikap ini jauh lebih baik daripada menutupi masalah yang sedang terjadi.
Berdasarkan riset Sprout Social tahun 2024, 75 persen konsumen Gen Z menuntut interaksi otentik. Mereka selalu mencari hubungan emosional yang nyata dengan suatu merek. Kejujuran adalah kunci utama untuk memenangkan hati pasar potensial ini.
Hindari penggunaan bahasa korporat yang kaku dan terlalu berjarak. Gunakan bahasa percakapan sehari-hari yang santai namun tetap terkesan sopan. Buat audiens merasa sedang mengobrol santai dengan seorang teman baik.
Kamu bisa menggunakan unsur humor untuk menarik perhatian audiens Gen Z. Mereka sangat menyukai konten hiburan berupa meme dan video komedi. Kamu bisa mengadaptasi tren candaan yang sedang viral di internet.
Namun, pastikan kamu tidak terkesan memaksakan sebuah lelucon ke audiens. Humor yang dipaksakan membuat merek kamu terlihat sangat konyol. Lelucon tersebut harus tetap sejalan dengan nilai utama merek kamu.
Berikut adalah contoh jenis humor yang bisa kamu coba terapkan. Pilihan ini bisa kamu sesuaikan dengan karakter audiens spesifik kamu:
Selalu perhatikan konteks waktu saat kamu menggunakan sebuah tren humor. Tren di media sosial bergerak cepat dan mudah sekali basi. Jika kamu terlambat merespons tren, sebaiknya lewati saja komedi tersebut.
Pemakaian bahasa gaul membuat merek terasa lebih dekat dan relevan. Namun, kamu harus menggunakannya dengan takaran porsi yang sangat wajar. Jangan sampai setiap kalimat penuh dengan istilah gaul yang membingungkan.
Pahami dulu arti dan konteks sebenarnya dari kata slang tersebut. Pemakaian kata yang salah konteks bisa menimbulkan sebuah kesalahpahaman fatal. Kamu bisa terkena sanksi sosial dari para pengguna internet aktif.
Kamu tidak perlu mengikuti semua tren bahasa gaul yang bermunculan. Pilih kata yang memang cocok dengan kepribadian merek kamu. Konsistensi dalam gaya komunikasi jauh lebih baik daripada sekadar ikut-ikutan.
Buatlah sebuah panduan gaya bahasa tertulis untuk seluruh tim pemasaran. Dokumen ringkas ini akan membantu menjaga keseragaman suara suatu merek. Semua anggota tim memiliki pemahaman yang sama saat membuat konten.
Gaya bahasa lisan atau tulisan harus selaras dengan elemen visual. Warna, jenis huruf, dan desain grafis juga mengkomunikasikan pesan spesifik. Keduanya saling melengkapi untuk membentuk identitas merek yang sangat kuat.
Jika merek kamu bernada ceria, gunakan warna terang dan desain dinamis. Warna pastel lebih cocok untuk merek yang menenangkan dan selalu bersahabat. Visual yang konsisten akan memperkuat pesan utama yang kamu sampaikan.
Elemen visual juga mencakup penggunaan emoji dalam berbagai teks promosi. Emoji bisa menambah nuansa emosi pada kalimat yang tadinya datar. Pastikan kamu memilih emoji yang tepat dan tidak terlalu berlebihan.
Gen Z sangat visual dan menyukai estetika yang tampak unik. Pastikan tampilan konten media sosial kamu enak dipandang oleh mata. Desain menarik membuat mereka berhenti sejenak untuk membaca tulisanmu.
Kamu harus rutin mengevaluasi efektivitas strategi komunikasi yang sedang berjalan. Pantau terus metrik keterlibatan seperti jumlah suka dan komentar harian. Perhatikan sentimen dari komentar yang audiens tulis setiap harinya.
Lakukan pengujian konten dengan mencoba dua gaya bahasa yang berbeda. Bandingkan mana yang menghasilkan respons terbaik dari target audiens utama. Hasil pengujian ini memberikan wawasan untuk merancang strategi konten selanjutnya.
Mintalah umpan balik langsung dari konsumen melalui fitur jajak pendapat. Dengarkan apa yang mereka sukai dan bagian mana yang kurang. Gen Z sangat menghargai merek yang mau mendengarkan masukan mereka.
Kamu juga bisa mengirimkan survei singkat melalui surat elektronik bulanan. Berikan hadiah kecil bagi mereka yang bersedia mengisi kuesioner tersebut. Data ini menjadi bekal berharga untuk terus menyempurnakan gaya bahasamu.
Gaya komunikasi merek bukanlah sesuatu yang kaku dan selalu permanen. Preferensi target pasar kamu pasti akan terus mengalami sebuah pergeseran. Kamu harus siap menyesuaikan diri mengikuti perkembangan tren yang dinamis.
Perubahan tren budaya pop bisa menjadi alasan untuk segera beradaptasi. Jangan mempertahankan gaya lama jika audiens sudah tidak menyukainya. Sikap fleksibel membuat merek kamu bertahan di kerasnya persaingan bisnis.
Lakukan transisi gaya komunikasi secara perlahan dan amati respons pengikutmu. Proses penyesuaian ini menuntut kamu untuk terus belajar hal baru. Hal ini memastikan kelangsungan dan umur panjang dari sebuah bisnis.
Pastikan perubahan tersebut tidak menghilangkan identitas inti dari bisnismu. Nilai dasar merek harus tetap sama dan mudah dikenali konsumen. Evaluasi berkelanjutan menjamin tone of voice brand kamu selalu relevan.
Mau jadi influencer yang nggak cuma eksis, tapi juga cuan? Yuk, gabung di App & Community by Seefluencer! Di sini, kamu bakal dapet strategi jitu, insight daging, dan kesempatan networking bareng kreator lainnya.
FREE Training & Roadmap untuk meningkatkan omzet bisnis atau penghasilan kamu. Kamu akan dikirimkan roadmap & training khusus sesuai kebutuhan kamu (personalized). Langsung isi form nya hanya dalam 30 detik di app.seefluencer.com/bootcamp
Biar ilmunya makin komplit, kamu juga bisa beli Megacreator Book di sini!
Jangan cuma baca aja, langsung follow Instagram, TikTok, dan YouTube biar nggak ketinggalan update dan tips buat jadi influencer!