
Jangan terjebak dalam perang harga yang berdarah-darah! Kamu harus mulai punya penggemar setia. Untuk itulah, kamu harus mulai memikirkan pembentukan karakter brand secara serius agar bisnismu punya wajah yang unik dan mudah diingat.
Karakter brand adalah seperangkat sifat manusia yang dilekatkan pada sebuah merek bisnis. Ini bukan sekadar logo keren atau slogan yang catchy. Ini tentang “jiwa” dan kepribadian dari bisnis tersebut. Coba bayangkan kalau bisnismu tiba-tiba berubah wujud jadi manusia, kira-kira dia bakal jadi orang yang seperti apa?
Apakah dia tipe teman yang asik dan humoris yang enak diajak nongkrong sambil ngopi? Atau dia tipe konsultan profesional yang bicaranya rapi, pakai jas, dan sangat berwibawa? Atau mungkin sosok ibu yang penuh kasih sayang dan menenangkan? Sifat-sifat inilah yang membuat audiens merasa terhubung secara emosional.
Konsumen zaman sekarang sudah pintar. Mereka tidak membeli barang, melainkan membeli cerita dan kepribadian yang mewakili diri mereka. Tanpa karakter yang kuat, bisnismu cuma benda mati yang tidak punya daya tarik emosional sama sekali.
Membangun kepribadian bisnis itu butuh pondasi yang kuat dan terdiri dari beberapa elemen kunci. Elemen pertamanya adalah gaya bicara atau tone of voice. Kamu harus menentukan apakah merekmu bakal ngomong pakai bahasa gaul yang santai, bahasa baku yang sopan, atau bahasa yang puitis dan inspiratif.
Gaya bicara ini harus konsisten di semua saluran, mulai dari tulisan di caption Instagram, isi website, sampai cara admin membalas chat pelanggan.
Elemen kedua adalah visual. Ini mencakup warna, jenis huruf (font), dan gaya fotografi. Kalau karaktermu ceria dan enerjik, jangan pakai warna-warna gelap atau desain yang kaku. Elemen ketiga adalah nilai-nilai atau values.
Apa yang diperjuangkan oleh bisnismu? Apakah kamu peduli isu lingkungan, pemberdayaan wanita, atau inovasi teknologi? Nilai-nilai ini menjadi kompas moral yang membimbing setiap keputusan bisnis yang kamu ambil dan menjadi alasan kenapa orang memilihmu.
Proses ini tidak bisa dilakukan dalam semalam sambil melamun. Kamu harus melakukan bedah bisnis secara mendalam. Tahap awalnya dimulai dengan riset audiens. Kamu harus tahu siapa mereka, apa yang mereka suka, apa ketakutan terbesar mereka, dan bahasa apa yang mereka pakai sehari-hari. Kamu harus masuk ke dalam pikiran mereka.
Setelah itu, kamu harus melihat kompetitor. Jangan sampai karakter yang kamu bangun malah mirip banget sama tetangga sebelah. Kamu harus cari celah pembeda. Proses selanjutnya adalah internalisasi. Pemahaman bahwa karakter brand adalah panduan utama dalam bekerja wajib dimiliki oleh semua anggota tim.
Jangan sampai tim marketing bilang A dengan gaya santai, tapi tim customer service bilang B dengan gaya kaku kayak robot. Ketidaksinkronan ini bakal bikin audiens bingung dan meragukan kredibilitasmu. Proses ini butuh waktu, diskusi panjang, dan uji coba sampai nemu formula yang pas.

Langkah praktisnya bisa dimulai dengan latihan personifikasi. Ambil secarik kertas dan tuliskan 3 sampai 5 kata sifat yang paling menggambarkan bisnismu. Misalnya: Ramah, Cepat, dan Terpercaya. Jadikan kata-kata ini sebagai mantra.
Setelah itu, buatlah panduan komunikasi atau brand voice guideline. Tuliskan kata-kata apa yang boleh dipakai dan kata-kata apa yang haram diucapkan oleh adminmu. Misalnya, melarang penggunaan singkatan alay atau mewajibkan penggunaan sapaan tertentu.
Langkah berikutnya adalah menjaga konsistensi visual. Pastikan semua desain grafis mengikuti palet warna yang sudah ditentukan.
Jangan tergoda buat ganti-ganti gaya cuma karena ikut-ikutan tren desain yang lagi viral tapi nggak nyambung sama jati diri bisnis. Kamu harus disiplin menjaga karakter ini di setiap titik interaksi dengan pelanggan.
Konsistensi adalah kunci dari segalanya. Jangan berharap orang langsung kenal dan sayang sama merek kamu dalam sehari. Membangun reputasi dan kepribadian itu butuh napas panjang. Kamu harus terus-menerus menampilkan wajah yang sama agar terekam kuat di memori pelanggan.
Prinsip inilah yang dibahas dalam Cara Membangun Entrepreneurship Branding, yang menekankan pentingnya identitas, konsistensi pesan, dan arah brand yang jelas agar bisnismu tertanam kuat di memori
Ingat, menjadi autentik itu jauh lebih berharga daripada berusaha menjadi sempurna. Pelanggan bisa mencium kepalsuan dari jarak jauh. Jadi, mulailah jujur dengan nilai yang kamu bawa dan lakukan pembentukan karakter brand dengan sepenuh hati agar bisnismu punya tempat spesial di hati mereka.
Mau jadi influencer yang nggak cuma eksis, tapi juga cuan? Yuk, gabung di App & Community by Seefluencer! Di sini, kamu bakal dapet strategi jitu, insight daging, dan kesempatan networking bareng kreator lainnya.
FREE Training & Roadmap untuk meningkatkan omzet bisnis atau penghasilan kamu. Kamu akan dikirimkan roadmap & training khusus sesuai kebutuhan kamu (personalized). Langsung isi form nya hanya dalam 30 detik di seefluencer.com/roadmap
Biar ilmunya makin komplit, kamu juga bisa beli Buku Mega Creator di sini!Jangan cuma baca aja, langsung follow Instagram, TikTok, dan YouTube biar nggak ketinggalan update dan tips buat jadi influencer!
Nano Banana AI
Insight tentang karakter brand sebagai ‘jiwa’ bisnis ini ngena banget, terutama bagian bahwa orang sekarang membeli cerita, bukan sekadar produk. Menurut saya, tantangan terbesarnya justru konsistensi—kadang brand sudah punya karakter, tapi eksekusinya beda-beda di tiap kanal. Akan menarik kalau ke depannya dibahas juga contoh konkret bagaimana menjaga konsistensi tone dan persona agar karakter brand benar-benar terasa hidup.