framework storytelling

6 Framework Storytelling yang Bikin Kontenmu Tidak Membosankan

Media SosialMarch 9, 2026

Framework storytelling adalah struktur yang digunakan untuk merangkai cerita menjadi sebuah konten menarik. Menurut studi OneSpot tahun 2021, 92% konsumen lebih menyukai konten yang dibuat dengan framework storytelling. Ini enam framework yang bisa kamu gunakan untuk kontenmu. 

1. Hero’s Journey

Framework ini membawa audiens mengikuti petualangan seru seorang tokoh utama. Tokoh tersebut harus menghadapi masalah rumit dan mencari jalan keluarnya. 

Kamu bisa memosisikan target konsumenmu sebagai pahlawan di cerita tersebut. Kemudian, produk atau layananmu hadir sebagai senjata sakti pembantu sang pahlawan. 

Metode ini membuat audiens merasa terhubung langsung dengan pesan merekmu. Mereka akan melihat produkmu sebagai solusi pasti bagi masalah harian. 

Gunakan kerangka Hero’s Journey ini:

  • Tampilkan situasi kehidupan normal sang tokoh pada awal cerita.
  • Munculkan masalah besar yang mengganggu kedamaian tokoh utama tersebut.
  • Kenalkan produkmu sebagai mentor penolong bagi sang tokoh pahlawan.
  • Tunjukkan keberhasilan tokoh mengatasi masalah harian menggunakan produk andalanmu.

2. Before-After-Bridge (BAB)

BAB adalah formula jitu untuk menulis naskah konten media sosial. Fokus utamanya adalah menunjukkan transformasi keadaan sebelum dan sesudah kejadian. 

Kamu menggambarkan dunia audiens saat ini yang penuh dengan masalah. Lalu, tunjukkan dunia idaman saat masalah tersebut sudah hilang total. 

Agar audiens langsung tertarik sejak awal, penting juga memahami Cara Bikin Hook Storytelling yang Pasti Ramai. Dengan hook yang kuat—misalnya berupa pertanyaan provokatif, fakta mengejutkan, atau situasi yang sangat relatable—kamu bisa membuat audiens berhenti scrolling dan mulai memperhatikan ceritamu.

Bagian jembatan adalah tempat kamu memasukkan penawaran produk ke audiens. Produkmu menjadi jalan penghubung antara keadaan buruk menuju keadaan baik. Gunakan kalimat singkat agar audiens cepat memahami nilai jual produkmu. 

Ini adalah contoh framework storytelling yang sangat mudah untuk diaplikasikan. Ikuti langkah mudah di bawah ini untuk menerapkan formula BAB:

  • Ceritakan keluhan atau rasa sakit yang dialami target pasarmu.
  • Gambarkan situasi menyenangkan jika keluhan tersebut berhasil disembuhkan dengan sempurna.
  • Tawarkan produkmu sebagai cara paling ampuh mencapai situasi menyenangkan tersebut.

3. Problem-Agitate-Solve (PAS)

Kerangka PAS memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan formula BAB. Perbedaannya terletak pada cara mengeksploitasi emosi negatif dari pikiran audiens. 

Kamu mengidentifikasi masalah utama dari target audiens pada tahap pertama. Setelah itu, kamu harus memperburuk masalah tersebut agar terasa mendesak. Aduk emosi audiens sampai mereka merasa sangat butuh jalan keluar. 

Tahap terakhir adalah memberikan solusi cemerlang lewat produk atau layananmu. Konten dengan kerangka PAS selalu menghasilkan tingkat konversi yang tinggi. Audiens akan bertindak cepat karena merasa cemas dengan dampak masalahnya. 

Pastikan kamu menempatkan rasa empati saat mengaduk emosi negatif mereka. Terapkan tiga langkah ini saat mulai menggunakan kerangka cerita PAS:

  • Sebutkan masalah spesifik yang dialami oleh target pasar dengan jelas.
  • Jelaskan dampak buruk yang pasti terjadi jika masalah tersebut dibiarkan.
  • Hadirkan produkmu untuk mengakhiri kecemasan dan masalah mereka secara seketika.

4. Simon Sinek’s Golden Circle

Kerangka unik ini bermula dari buku populer karya Simon Sinek. Fokus utamanya adalah menjawab pertanyaan mengapa, bagaimana, dan apa tujuannya. 

Kebanyakan kreator konten selalu memulai cerita dari apa yang dijual. Kerangka ini memutarbalikkan logika tersebut dengan memulai cerita dari alasan. Kamu harus menceritakan visi utama dan alasan produkmu mulai diciptakan. 

Jelaskan mengapa bisnis milikmu peduli pada isu tertentu di masyarakat. Lalu, jelaskan bagaimana proses bisnismu mewujudkan visi tersebut secara nyata. 

Terakhir, sebutkan apa produk hebat yang kamu tawarkan kepada konsumen. Pendekatan ini menyentuh bagian otak audiens pengatur emosi dan keputusan. Konsumen akan membeli alasanmu terlebih dahulu sebelum membeli produk fisikmu. 

Gunakan panduan mudah berikut ini untuk menyusun cerita Golden Circle:

  • Ungkapkan tujuan atau keyakinan utama yang mendorong merek bisnismu lahir.
  • Ceritakan nilai unik dan cara kerja kerasmu mencapai tujuan itu.
  • Tampilkan produk akhir yang menjadi bukti nyata dari keyakinan tersebut.

5. The Mountain

Gaya penceritaan ini mirip dengan bentuk lereng sebuah gunung tinggi. Ceritamu akan bergerak perlahan naik menuju puncak ketegangan yang seru. Setiap adegan harus membangun rasa penasaran audiens secara terus menerus. 

Kerangka The Mountain sangat cocok untuk membagikan kisah sukses sebuah bisnis. Kamu bisa menceritakan rintangan berat yang berhasil dilewati oleh pendiri. 

Dalam praktiknya, pendekatan ini sering dipadukan dengan teknik visual storytelling, yaitu cara menyampaikan cerita melalui kombinasi gambar, video, atau elemen visual lain agar emosi dan pesan cerita terasa lebih kuat bagi audiens.

Tunjukkan bahwa perjalanan menuju sebuah kesuksesan itu penuh dengan drama. Audiens menyukai kisah perjuangan nyata yang penuh dengan masalah rintangan. Mereka akan terus membaca ceritamu sampai menemukan puncak konflik tersebut. 

Setelah puncak ketegangan, berikan resolusi cerita yang sangat memuaskan. Akhir cerita harus selalu memberikan pelajaran berharga bagi kehidupan audiensmu. 

Kamu bisa menyusun kerangka cerita The Mountain melalui tahap ini:

  • Kenalkan latar belakang hidup tokoh utama dan awal mula perjalanannya.
  • Ceritakan serangkaian masalah kecil yang semakin lama menjadi semakin membesar.
  • Hadirkan konflik puncak yang paling menentukan nasib sang tokoh utama.
  • Berikan penyelesaian masalah dan pelajaran berharga yang bisa diambil audiens.

6. In Medias Res

Istilah bahasa Latin ini berarti memulai cerita dari tengah kejadian. Kamu langsung melempar audiens ke dalam pusat aksi dan konflik. Tidak perlu repot menjelaskan latar belakang tokoh pada awal video. 

Cara ini sangat ampuh menangkap perhatian audiens sejak detik pertama. Konten media sosial saat ini sangat membutuhkan daya tarik instan. 

Setelah perhatian audiens terkunci, kamu bisa menceritakan ulang kejadian sebelumnya. Jelaskan kepada audiens bagaimana situasi menegangkan tersebut bisa sampai terjadi. 

Teknik ini membangun rasa penasaran kuat di dalam pikiran audiens. 9 dari 10 penonton sangat menyukai video tanpa basa-basi panjang. 

Terapkan langkah praktis di bawah ini untuk memulai cerita dari tengah:

  • Mulai konten dengan adegan puncak yang penuh dengan kejutan seru.
  • Gunakan transisi mundur untuk menjelaskan penyebab munculnya adegan puncak tersebut.
  • Hubungkan resolusi konflik tersebut dengan manfaat unik dari produk milikmu. 

Pendekatan tak terduga ini sangat disukai oleh target konsumen muda. Gunakan framework storytelling ini agar konten pendekmu tidak mudah dilewati.

Mau jadi influencer yang nggak cuma eksis, tapi juga cuan? Yuk, gabung di App & Community by Seefluencer! Di sini, kamu bakal dapet strategi jitu, insight daging, dan kesempatan networking bareng kreator lainnya. 

FREE Training & Roadmap untuk meningkatkan omzet bisnis atau penghasilan kamu. Kamu akan dikirimkan roadmap & training khusus sesuai kebutuhan kamu (personalized). Langsung isi form nya hanya dalam 30 detik di app.seefluencer.com/bootcamp 

Biar ilmunya makin komplit, kamu juga bisa beli Megacreator Book di sini!Jangan cuma baca aja, langsung follow Instagram, TikTok, dan YouTube biar nggak ketinggalan update dan tips buat jadi influencer!

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...