
Cara jualan efektif dengan content marketing strategies. Perilaku konsumen saat ini sudah sangat cerdas dan selektif. Mereka bisa membedakan mana akun media sosial yang benar-benar memberikan nilai dan mana yang hanya ingin mengambil uang mereka.
Kamu butuh pendekatan yang lebih terukur, elegan, dan solutif untuk memenangkan hati mereka. Kunci untuk mengubah audiens yang dingin menjadi pelanggan setia ada pada penerapan content marketing strategies yang tepat dan konsisten.
Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah berhenti berusaha menjual produkmu ke seluruh dunia. Produkmu mustahil cocok untuk semua orang, dan memaksakan hal itu hanya akan membuang biaya pemasaranmu.
Kamu harus menentukan siapa sosok ideal yang paling membutuhkan solusi dari produkmu. Coba bayangkan secara detail: berapa usia mereka, apa pekerjaan mereka, di mana mereka tinggal, dan masalah apa yang sedang menghantui pikiran mereka saat ini?
Jika kamu menjual layanan konsultasi keuangan untuk milenial, gaya bahasa dan visualmu harus relevan dengan kecemasan mereka soal rumah atau dana pensiun. Pendekatan ini tentu berbeda total jika targetmu adalah pensiunan yang ingin berinvestasi.
Kamu harus mengenal mereka sedalam mungkin agar setiap konten yang kamu buat terasa personal. Saat audiens merasa “dimengerti” oleh kontenmu, rasa percaya akan tumbuh dengan sendirinya, dan kepercayaan adalah mata uang termahal dalam bisnis online.
Jangan habiskan energimu untuk mengejar eksistensi di semua media sosial sekaligus. Kamu harus memilih satu atau dua platform utama di mana target audiensmu paling aktif. Kalau target pasarmu adalah anak muda yang menyukai tren visual cepat, TikTok dan Instagram Reels adalah medan perang yang wajib kamu kuasai.
Namun, jika kamu menawarkan jasa profesional B2B, LinkedIn atau Twitter (X) mungkin jauh lebih efektif untuk membangun kredibilitas. Untuk lebih jelasnya kamu bisa pelajari Strategi Marketing Media Sosial Sesuai dengan Platformnya agar tidak salam dalam menentukan platform yang tepat.
Fokus pada platform yang tepat akan membuat usahamu jauh lebih efisien. Kamu harus mempelajari budaya dan algoritma di platform tersebut. Pengguna TikTok menyukai konten yang autentik, sedikit berantakan, dan jujur, sedangkan pengguna Instagram mungkin lebih menyukai estetika visual yang rapi.
Memaksakan konten yang sama rata di semua platform tanpa penyesuaian hanya akan membuat pesanmu tidak sampai ke audiens yang tepat.
Kesalahan terbesar yang harus kamu hindari adalah menjadikan akun media sosialmu sebagai katalog berjalan. Orang membuka media sosial untuk mencari hiburan, inspirasi, atau informasi baru, bukan untuk melihat brosur jualan setiap saat. Kamu harus menerapkan prinsip Pareto: 80% konten memberikan nilai (edukasi atau hiburan) dan 20% konten jualan (promosi).
Sebagai contoh strategi content marketing yang bisa kamu tiru, jika kamu menjual peralatan masak, jangan hanya memposting foto panci dan harga. Buatlah video resep masakan simpel 5 menit menggunakan panci tersebut atau tips merawat alat dapur agar awet.
Konten seperti ini memposisikan kamu sebagai teman yang membantu, bukan penjual yang memaksa. Ketika audiens mendapatkan manfaat dari ilmumu, mereka akan dengan senang hati membeli produk yang kamu rekomendasikan sebagai bentuk timbal balik.
Semangat di awal lalu menghilang tanpa kabar adalah penyakit umum yang membunuh banyak bisnis online. Kamu harus menjaga konsistensi agar algoritma media sosial terus merekomendasikan akunmu ke orang-orang baru.
Untuk menjaga ritme ini, kamu wajib memiliki editorial plan atau kalender konten. Rencanakan apa yang akan kamu posting setidaknya untuk satu atau dua minggu ke depan.
Tentukan tema harian agar kamu tidak bingung. Misalnya, hari Senin kamu posting tips edukasi, hari Rabu testimoni pelanggan, dan hari Jumat promo spesial atau soft selling. Adanya jadwal yang jelas akan menyelamatkanmu dari kebuntuan ide harian.
Kamu harus disiplin mengikuti jadwal ini karena audiens menyukai akun yang aktif dan bisa diandalkan. Konsistensi juga menunjukkan bahwa bisnis kamu profesional dan serius dalam melayani pelanggan.
Konten yang bagus tidak akan berguna kalau tidak ada yang menemukannya. Kamu harus memastikan kontenmu mudah dicari oleh mesin pencari, baik itu Google, YouTube, maupun kolom pencarian di media sosial. Gunakan kata kunci yang relevan dengan apa yang biasa diketik oleh audiensmu di judul, deskripsi, dan tagar (hashtag).
Riset kata kunci sederhana bisa kamu lakukan dengan melihat saran pencarian di kolom search bar. Jika banyak orang mencari “cara menghilangkan noda di baju putih”, dan kamu menjual deterjen, pastikan frasa tersebut ada dalam judul atau caption kontenmu. Ini adalah cara organik untuk mendatangkan trafik jangka panjang tanpa harus terus-menerus membayar iklan. SEO membantu tokomu tetap “buka” dan ditemukan orang bahkan saat kamu sedang tidur.
Satu ide konten sebenarnya bisa kamu olah menjadi berbagai format untuk efisiensi kerja. Kamu harus cerdas dalam melakukan repurposing content. Sebuah artikel blog yang panjang dan mendalam bisa kamu pecah menjadi utas (thread) singkat di X, diringkas menjadi infografis carousel untuk Instagram, atau dijadikan naskah untuk video pendek di TikTok.
Ini adalah contoh strategi content marketing untuk menghemat waktu dan tenaga. Kamu tidak perlu memeras otak mencari ide baru setiap hari dari nol. Cukup satu ide besar yang kuat, lalu distribusikan ke berbagai saluran dengan format yang disesuaikan.
Cara ini memastikan pesanmu tersampaikan ke audiens yang lebih luas dengan usaha yang lebih minim. Semakin banyak jaring yang kamu sebar melalui berbagai format konten, semakin besar peluang calon pembeli masuk ke dalam ekosistem bisnismu.
Langkah terakhir yang mutlak kamu lakukan adalah evaluasi berbasis data. Jangan asal posting lalu ditinggal begitu saja tanpa peninjauan. Periksa data analitik (insights) dari setiap konten yang sudah kamu unggah secara berkala. Perhatikan konten mana yang paling banyak mendapatkan interaksi, jangkauan, atau yang berujung pada klik tautan di bio profilmu.
Data ini adalah petunjuk berharga untuk langkah selanjutnya. Kamu harus berani membuang jenis konten yang kinerjanya buruk dan memperbanyak jenis konten yang disukai audiens. Mungkin audiensmu lebih suka video behind the scene daripada foto produk studio yang kaku. Lakukan evaluasi ini setidaknya sebulan sekali untuk menyempurnakan taktikmu.
Bisnis yang bertumbuh adalah bisnis yang selalu belajar dari data dan beradaptasi. Dengan evaluasi rutin, kamu bisa memastikan setiap tenaga yang kamu keluarkan benar-benar menghasilkan dampak positif bagi bisnismu melalui eksekusi content marketing strategies.
Mau jadi influencer yang nggak cuma eksis, tapi juga cuan? Yuk, gabung di App & Community by Seefluencer! Di sini, kamu bakal dapet strategi jitu, insight daging, dan kesempatan networking bareng kreator lainnya.Â
FREE Training & Roadmap untuk meningkatkan omzet bisnis atau penghasilan kamu. Kamu akan dikirimkan roadmap & training khusus sesuai kebutuhan kamu (personalized). Langsung isi form nya hanya dalam 30 detik di app.seefluencer.com/bootcamp
Biar ilmunya makin komplit, kamu juga bisa beli Megacreator Book di sini!Jangan cuma baca aja, langsung follow Instagram, TikTok, dan YouTube biar nggak ketinggalan update dan tips buat jadi influencer!