
Kamu harus mengubah gaya komunikasi agar setiap percakapan berpotensi menjadi uang. Mulai sekarang, kamu wajib mempraktikkan teknik closing melalui DM yang benar dan terstruktur agar setiap notifikasi pesan baru berakhir dengan bukti transfer masuk.
Pendekatan ini merupakan bagian penting dari strategi cara meningkatkan penjualan, karena komunikasi yang tepat mampu membangun kepercayaan sekaligus mendorong urgensi. Dengan memahami alur percakapan yang efektif, setiap notifikasi pesan baru bisa berakhir dengan bukti transfer masuk, bukan sekadar basa-basi tanpa hasil.
Di dunia online shop, calon pembeli itu ibarat ikan yang licin. Kalau kamu tidak cepat menangkapnya, dia akan berenang ke lapak sebelah dalam hitungan detik. Konsumen zaman sekarang sangat tidak sabaran dan menuntut respons instan.
Kamu harus membalas pesan mereka sesegera mungkin saat mereka sedang online dan minat belinya sedang di puncak. Menunda membalas 10 menit saja bisa menghilangkan selera belanja mereka.
Selain kecepatan atau fast response, sentuhan personal juga sangat mempengaruhi psikologis pembeli. Hindari membalas dengan template robot yang kaku. Kamu harus menyebut nama mereka dalam percakapan. Menyebut nama seseorang adalah bunyi yang paling indah bagi pemilik nama tersebut.
Contohnya, daripada cuma bilang “Stok ready sis”, lebih baik bilang “Stok warna merah ini masih ready Kak Dinda, kebetulan ini best seller banget lho”. Pendekatan personal ini membuat calon pembeli merasa dihargai dan dianggap spesial, sehingga tembok pertahanan mereka untuk menolak tawaranmu menjadi lebih rendah.
Salah satu kesalahan fatal yang bikin closing gagal adalah terlalu banyak memberikan ruang bagi calon pembeli untuk bilang “tidak”. Kamu harus cerdik mengarahkan pola pikir mereka dengan teknik Yes Set. Teknik ini bekerja dengan cara mengajukan serangkaian pertanyaan ringan yang pasti akan dijawab “ya” oleh calon pembeli. Tujuannya adalah membangun momentum kesepakatan.
Misalnya, kamu berjualan produk perawatan wajah. Jangan langsung tanya “Jadi beli krimnya nggak?”. Mulailah dengan pertanyaan seperti, “Kakak pasti pengen wajahnya cerah pas wisuda nanti kan?” (Jawabannya pasti Ya). Lalu lanjut, “Kalau ada produk yang aman dan BPOM pasti Kakak lebih tenang pakainya kan?” (Jawabannya pasti Ya).
Ketika otak manusia sudah terbiasa menyetujui pernyataanmu beberapa kali, mereka akan cenderung sulit untuk menolak tawaran intinya nanti. Kamu secara tidak sadar sedang menggiring mereka masuk ke dalam corong penjualanmu tanpa paksaan.
Manusia punya sifat alami takut kehilangan atau Fear of Missing Out (FOMO). Kalau calon pembeli merasa produkmu stoknya melimpah ruah dan bisa dibeli kapan saja, mereka akan menunda pembayaran. Mereka akan berpikir, “Ah, beli besok saja deh, barangnya juga masih banyak”. Penundaan ini adalah musuh utama dalam penjualan karena besok keinginan mereka mungkin sudah hilang.
Kamu harus menciptakan urgensi dengan menginformasikan bahwa stok sangat terbatas atau promo akan segera berakhir. Gunakan kalimat sakti seperti, “Warna sage green ini sisa 2 pcs terakhir lho Kak, kalau habis belum tentu restock bulan ini” atau “Promo gratis ongkirnya cuma berlaku sampai jam 3 sore ini ya Kak”.
Tekanan halus ini membuat calon pembeli berpikir cepat dan segera melakukan transfer karena takut kehabisan. Namun, kamu harus jujur dalam hal ini. Jangan bilang sisa satu kalau di gudang masih ada seribu, karena kepercayaan pelanggan adalah aset jangka panjang.
Berhenti mengajukan pertanyaan yang jawabannya “Ya” atau “Tidak” di akhir percakapan. Pertanyaan seperti “Jadi order nggak Kak?” itu haram hukumnya karena memberikan peluang bagi mereka untuk membatalkan niat. Kamu harus menggunakan teknik Alternative Close atau memberikan dua pilihan yang sama-sama menguntungkanmu.
Alih-alih bertanya jadi beli atau tidak, tanyakanlah “Kakak mau transfer lewat BCA atau Mandiri?” atau “Paketnya mau dikirim pakai JNE atau SiCepat Kak?”. Dengan memberikan pertanyaan pilihan ganda seperti ini, pikiran bawah sadar calon pembeli akan langsung melompat ke tahap penyelesaian transaksi.
Mereka tidak lagi sibuk memikirkan keraguan untuk membeli, melainkan sibuk memilih cara pembayaran atau pengiriman. Ini adalah trik psikologis sederhana yang sangat ampuh untuk mempercepat proses deal.
Terkadang, hambatan terakhir seseorang untuk transfer adalah rasa ragu dan kurang percaya. Mereka takut barang tidak sesuai ekspektasi atau takut ditipu. Kamu bisa menghancurkan keraguan ini dengan memberikan bukti sosial atau social proof secara visual langsung di ruang obrolan. Orang cenderung ikut-ikutan apa yang dilakukan orang lain.
Saat obrolan mulai melambat, kamu bisa mengirimkan tangkapan layar testimoni pelanggan lain yang puas, atau foto tumpukan paket yang siap dikirim hari itu. Katakan, “Ini Kak, tadi pagi banyak banget yang nyari model ini, untung Kakak chat sekarang pas barangnya masih ada”.
Melihat orang lain berebut membeli produk yang sama akan meyakinkan mereka bahwa keputusan untuk membeli adalah tindakan yang tepat dan aman. Rasa percaya diri mereka untuk mengeluarkan uang akan meningkat drastis.
Semua orang suka hadiah, sekecil apa pun bentuknya. Kamu bisa menggunakan ini sebagai senjata pamungkas untuk mendorong calon pembeli yang masih maju mundur. Tawarkan insentif khusus jika mereka menyelesaikan pembayaran saat itu juga. Insentif ini tidak harus mahal dan merugikan margin keuntunganmu.
Kamu bisa menawarkan hal sederhana seperti, “Khusus pelunasan hari ini, aku kasih bonus pouch cantik ya Kak” atau “Kalau transfer sekarang, aku prioritaskan pengiriman kloter pertama jadi barangnya bisa sampai lebih cepat”.
Iming-iming keuntungan tambahan ini biasanya cukup kuat untuk meruntuhkan pertahanan terakhir mereka. Mereka akan merasa mendapatkan nilai lebih (value for money) dari uang yang mereka keluarkan.
Jurus terakhir ini membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi dari kamu sebagai penjual. Teknik ini disebut Assumptive Close. Kamu harus bersikap dan berbicara seolah-olah calon pembeli sudah setuju untuk membeli produkmu, bahkan sebelum mereka mengatakannya secara eksplisit. Jangan terlihat ragu atau menunggu konfirmasi berulang kali.
Langsung saja minta data pengiriman dengan format yang rapi. Katakan, “Boleh minta alamat lengkap dan nomor HP-nya Kak? Biar aku totalkan sekalian sama ongkirnya ke kecamatan Kakak”. Tindakan ini menyiratkan bahwa proses tawar-menawar sudah selesai dan sekarang saatnya masuk ke tahap administrasi.
Kebanyakan pembeli akan secara refleks mengikuti alurmu dan mengisi data tersebut. Setelah data terisi, mereka akan merasa tidak enak hati untuk membatalkan pesanan. Dengan menerapkan keberanian dan alur yang rapi seperti ini, kamu akan menguasai seni teknik closing melalui DM dan melihat omzet penjualanmu meroket tajam.
Namun, closing yang efektif seharusnya tidak berhenti pada transaksi pertama saja. Untuk memastikan pelanggan kembali membeli di kemudian hari, penting memahami tips meningkatkan repeat order yang membahas cara membangun hubungan jangka panjang, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan memaksimalkan nilai dari setiap pembeli yang sudah berhasil kamu closing.
Mau jadi influencer yang nggak cuma eksis, tapi juga cuan? Yuk, gabung di App & Community by Seefluencer! Di sini, kamu bakal dapet strategi jitu, insight daging, dan kesempatan networking bareng kreator lainnya.
FREE Training & Roadmap untuk meningkatkan omzet bisnis atau penghasilan kamu. Kamu akan dikirimkan roadmap & training khusus sesuai kebutuhan kamu (personalized). Langsung isi form nya hanya dalam 30 detik di seefluencer.com/roadmap
Biar ilmunya makin komplit, kamu juga bisa beli Buku Mega Creator di sini!Jangan cuma baca aja, langsung follow Instagram, TikTok, dan YouTube biar nggak ketinggalan update dan tips buat jadi influencer!